iklan Anggota DPR RI, Sutan Adil Hendra (SAH).
Anggota DPR RI, Sutan Adil Hendra (SAH).

JAMBIUPDATE.CO, JAMBI - Indonesia adalah negara kaya, memiliki bentangan wilayah memanjang dari Sabang sampai Merauke, ditambah lautan yang luas, hasil alam melimpah, iklim tropis yang sejuk, menjadi anugrah kepada Indonesia.

Namun semua kekayaan itu seolah berlawanan (paradoks) dengan kondisi sosial ekonomi rakyatnya.

"Indonesia negara yang kaya, tapi rakyatnya miskin, ketimpangan ekonomi sangat luar biasa, rakyat miskin makin bertambah, sumber daya alam dikuasai asing, sementara negara pun terjebak hutang ribuan triliun, ungkap Sutan Adil Hendra (SAH) ketua DPD HKTI Provinsi Jambi dalam diskusi APBN 2018, di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan (24/8) kemarin.

Bahkan dalam diskusi yang dihadiri berbagai komunitas pergerakan tersebut SAH membeberkan beberapa fakta yang merisaukan dirinya sebagai anak bangsa.

"Ketimpangan kita sekarang luar biasa, bayangkan 94 persen tabungan di perbankan hanya 6 persen dimiliki masyarakat, yang jumlah tidak sampai 8 ribu orang."

Selain itu dari kepemilikan lahan pertanahan, ada 11 orang konglomerat yang menguasai tanah seluas pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, di mana keadilan ekonomi bisa terjadi jika pemerintah menutup mata kondisi ini.

Imbas dari ketimpangan ini sekarang, anggota Fraksi Partai Gerindra tersebut mengatakan angka kemiskinan di Indonesia makin membesar dan dalam.

Angka masyarakat miskin sekarang sudah tidak terkendali melalui pertumbuhan ekonomi, bahkan situasi makin dalam, dulu kategori miskin jika orang punya pendapatan 50 ribu perhari, kini rata - rata mereka hanya mampu mendapatkan uang 10 - 18 ribu perhari, ungkapnya.

Mengatasi ketimpangan ini SAH mengatakan pemerintah perlu melakukan strategi pemerataan pembangunan khususnya dalam bidang pendidikan.

"Mengatasi ketimpangan perlu di jawab dengan strategi pemerataan pertumbuhan, jangan pemerintah fokus pada infrastruktur yang justru melahirkan ketimpangan, karena yang paling menikmati orang yang punya modal. "

Dalam hal ini SAH mengatakan bidang pendidikan menjadi pintu masuk untuk mengatasi ketimpangan, karena pendidikan bisa menimbulkan kreativitas melalui ilmu pengetahuan yang dikembangkan, dengan kreativitas akan muncul keberdayaan masyarakat, sehingga bisa mendongkrak ekonomi dan kehidupan rakyat, tandasnya.(*/wan)


Berita Terkait



add images